Beranda Ekonomi YLKI Nilai Polisi Tebang Pilih Dalam Penanganan Aduan Jemaah Umroh Gagal Berangkat

YLKI Nilai Polisi Tebang Pilih Dalam Penanganan Aduan Jemaah Umroh Gagal Berangkat

336
BERBAGI
alterntif text

Jakarta, Suarapelita.com – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan bahwa lembaganya telah menerima aduan dari 22 ribu jemaah umrah yang bermasalah dari enam perusahaan travel. Namun ‎demikian, polisi dinilai masih tebang pilih dalam menangani aduan jemaah tersebut.

“Pengaduan terbanyak adalah jemaah first travel sebanyak 17 ribu jemaah. Sementara itu jamaah yang terbanyak kedua adalah Kafilah Rindu Ka’bah (PT Assyifa Wisata Mandiri) sebanyak 3.065 jemaah dan Hanin Tour sebanyak 1.800 jemaah. Sementara tiga travel agen lainnya memiliki jumlah

“Untuk kasus fisrt travel‎ saat ini sudah ditangani  oleh polisi bahkan sudah ditangkap tersangkanya. Namun untuk kasus Kafilah Rindu Ka’bah sampai saat ini kasusnya mandek. Padahal kasusnya sudah muncul duluan,” ujar dia saat konferensi pers di Jakarta, Jumat 22 September 2017.

Menurut Tulus, kasus ini jika di cek dilapangan kemungkinan besar lebih banyak lagi. ‎Hal ini menunjukkan lemahnya pengawasan dari Kementrian Agama. Tulus mengatakan, saat ini terdapat sekitar 725 biro umrah yang terdaftar di Kementrian Agama. Seharusnya Kementrian Agama tidak hanya bisa mengeluarkan izin biro umrah saja melainkan juga melakukan evaluasi secara berkala. Dengan demikian, jemaah umrah yang terindikasi tidak baik bisa dicabut izinnya.

“Kemenag selalu beralasan bahwa SDM yang dimiliki kurang. Padahal ini bukan alasan, seharusnya pengawasan bisa lebih kuat bila memberikan izin sebanyak itu,” ujar dia.

Selain itu, Tulus mengimbau para calon jamaah untuk selalu waspada jika ada biro travel yang menawarkan harga murah. Saat ini standar unyuk biaya umrah adalah 1.700 Dolar AS atau sekitar Rp 22 juta. “Jadi kalau ada agen umrah menawarkan harga di bawah itu, maka seharusnya ada pertanyaan besar. Karena sebanyak 70 persen dari jamaah pasti bermasalah,” ujar dia.

Sementara itu, pelapor ‎biro Kafilah Rindu Ka’bah‎, Hisyam Ramdhani (29), mengatakan dirinya sudah melaporkan pemilik travel, Ali Zainal Abidin, sejak April 2016. Meskipun demikian, laporan tersebut sampai saat ini masih berstatus P-19. “Kami meminta keadilan, karena sebenarnya kasusnya sudah ada sebelum first travel. Tapi kami belum mendapatkan kepastian proses hukum,” ujar dia.

Hisyam mengatakan, jamaah yang bermasalah ‎dengan tarvel tersebut berasal dari berbagai kota di Indonesia. Mereka ditawarkan paket umrah mulai dari Rp 11 juta sampai Rp 22 juta. Mereka dijanjikan akan berangkat paling lama Desember 2015. Meskipun demikian, sampai saat ini sedikitnya 3.065 calon jemaah umrah tidak berangkat. “Harga umrah tersebut bergantung pada berapa lama kita berangkat umrah. Semakin lama menunggu, maka semakin murah,” ujarnya. (RH)