Beranda Nasional Tidak Ada Kegentingan Memaksa, Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Perrpu Ormas

Tidak Ada Kegentingan Memaksa, Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Perrpu Ormas

308
BERBAGI
alterntif text

Jakarta, Suarapelita.com – Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Alvon Kurnia menjelaskan alasannya dalam pengajuan diri pihak terkait langsung pada persidangan uji materi peraturan perundang-undanngan No 2 tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat (Masyarakat).

Menurutnya, objek perkara dalam pengujian perppu ini akan memiliki dampak secara langsung terhadap para pemohon pihak terkait.

“Merujuk pada ketentuan pasal UU ormas, organisasi yang berbadan hukum yayasan dan perkumpulan adalah bagian dari ormas yang tunduk pada uu ormas, sekaligus juga perppu ormas sebagai perubahannya,” Kata Alvon Kurnia Palma dalam Konferensi Pers di YLBHI Jakarta Pusat, Senin (2/10/2017).

“Oleh karenanya, putusan MK nantinya dalam pengujian ini memiliki dampak langsung bagi ekstitensi dan masa depan para pemohon pihak terkait, ” tambahnya.

Dalam isi pemohonannya, YLBHI sebagai bagaian dari Koalisi Masyarakat Sipil mendalihkab sejumlah argumentasi.

“Pertama penerbitan perppu ormas tidak memenuhi syarat kegentingan yang memaksa, sehingga bertentangan dengan pasal 22 UUD 1945. Kedua penerbitan perppu ormas memberangus kebebasan berserikat dan berorganisasi, sehingga bertentangan dengan dengan pasal 28 dan pasal 28 E ayat (3) UUD 1945,” katanya.

“Ketiga, Pasal 61 dan pasal 80 A perppu ormas bertentangan dengan prinsip negara hukum, sebagaimana ditegaskan pasal 1 ayat (3) UUD 1945, dan Keempat pasal 59 ayat (3) huruf b dan pasal 82 A ayat (2) bertentangan dengan prinsip kepastian hukum yang adil, sebgaimana ditegaskan pasal 28 D ayat (1) UUD 1945,” tambahnya.

Dia juga menegaskan bahwa Perppu ormas ini harus melibatkan berbagai pihak karena akan berpengaruh pada masa depan kebebasan berserikat dan berorganisasi.

“Sayangnya, MK telah melupakan pentingnya pembahasan yang seharusnya mengakomodasi banyak pihak tersebut, ” tutupnya. (Rahadian)